Lewat Inovasi Chatbot STEAM-ESD, Ainus Salsabila Raih IPK 4,00 dan jadi Wisudawan Terbaik S2 Pendidikan Sains, FMIPA, UNESA
Program Studi S-2 Pendidikan Sains FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali mencatat prestasi membanggakan melalui capaian salah satu mahasiswinya, Ainus Salsabila, M.Pd., yang berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00. Prestasi tersebut diraih melalui tesis inovatif bertajuk “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Chatbot Berbasis STEAM-ESD untuk Meningkatkan Literasi Sains Peserta Didik SMA.”
Mahasiswi asal Pamekasan, Madura tersebut berhasil menyelesaikan studi magisternya dalam waktu 1,5 tahun sekaligus menjadi salah satu mahasiswa tercepat di angkatannya dalam menyelesaikan seminar proposal hingga sidang tesis. Penelitian yang dikembangkannya juga memperoleh pendanaan Hibah Penelitian BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat), sebuah pencapaian yang menunjukkan kualitas dan urgensi riset yang diangkat.
Dalam penyusunan tesisnya, Ainus dibimbing oleh Dr. Sifak Indana, M.Pd. dan Beni Setiawan, S.Pd., M.Pd., Ph.D. Penelitian tersebut mengembangkan perangkat pembelajaran chatbot berbasis STEAM-ESD yang dirancang untuk meningkatkan literasi sains peserta didik melalui pendekatan integratif antara sains, teknologi, rekayasa, seni, matematika, serta prinsip Education for Sustainable Development (ESD). Ainus menjelaskan bahwa ide penelitian tersebut lahir dari persoalan nyata yang ditemui di sekolah, kemudian dikembangkan sejalan dengan prioritas penelitian hibah Kemdiktisaintek. Penelitiannya memuat empat praktikum kontekstual berbasis sumber daya lokal, yaitu biogas, photocatalytic oxidation (PCO), tempe, dan tape pisang. Seluruh kegiatan praktikum dirancang dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar siswa sekaligus menanamkan nilai keberlanjutan. “Tesis ini tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk menghadirkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini,” ujarnya.
Perjalanan akademik Ainus tidak selalu berjalan mulus. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat proses pengajuan proposal Hibah BIMA Pascasarjana. Setelah mempersiapkan proposal dengan maksimal, skema hibah pascasarjana sempat ditiadakan akibat efisiensi anggaran. Situasi tersebut membuatnya merasa kecewa karena seluruh usaha yang telah dilakukan seolah terhenti di tengah jalan. “Saya sempat menangis karena merasa tertinggal dari teman-teman lain yang sudah mulai menyusun bab tesis. Saat itu saya hanya sampai pada proposal hibah yang belum bisa diajukan,” kenangnya. Namun, di tengah rasa kecewa tersebut, Ainus tetap menyimpan keyakinan bahwa usaha dan doa tidak akan sia-sia. Dua minggu kemudian, skema hibah pascasarjana kembali dibuka dan proposal penelitiannya dinyatakan lolos pendanaan. Pengalaman itu menjadi titik balik yang semakin menguatkan semangatnya untuk menyelesaikan studi dengan baik. “Usaha yang disertai keyakinan dan doa bisa membawa hasil di waktu yang tidak kita duga,” tuturnya.
Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang pendidikan yang kuat, Ainus mengaku banyak belajar tentang arti perjuangan dari kedua orang tuanya. Ayahnya berprofesi sebagai dosen, sedangkan ibunya seorang guru. Dari keluarganya, ia memahami bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengubah kehidupan dan membuka lebih banyak kesempatan. Meski berasal dari keluarga akademisi, Ainus berusaha membangun pencapaiannya secara mandiri. Ia memilih menempuh pendidikan tanpa bergantung pada relasi keluarga dan membuktikan bahwa keberhasilan harus diperjuangkan dengan usaha sendiri. “Banyak orang mengira masa depan saya sudah tersedia karena latar belakang keluarga. Padahal semua pencapaian yang saya raih benar-benar melalui proses belajar, perjuangan, dan kerja keras sendiri,” ungkapnya.
Sebagai wisudawan terbaik, Ainus juga membagikan tiga kunci utama yang menurutnya penting dimiliki mahasiswa, yaitu ketekunan, integritas, dan kemampuan beradaptasi. Ia percaya bahwa keberhasilan bukan hanya milik orang pintar, melainkan milik mereka yang terus berusaha dan tidak mudah menyerah. “Tidak semua usaha itu dipermudah, tapi yang berusaha pasti berubah. Terus optimis karena setiap usaha memiliki jalannya sendiri untuk berbuah,” pesannya.
Prestasi yang diraih Ainus Salsabila menjadi bukti bahwa inovasi, kerja keras, dan keteguhan hati mampu membawa mahasiswa mencapai prestasi terbaik sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan sains di Indonesia.